
Upaya rekonstruksi di Palestina terus berlangsung, terutama pada wilayah-wilayah yang mengalami kerusakan parah, seperti wilayah Gaza perbatasan Barat dan kota-kota yang terhitung padat penduduk. Pembangunan ulang terus disemogakan, terutama untuk yang dirasa mendesak seperti wilayah pemukiman dan rumah sakit. Namun, apakah hal itu masih bisa berjalan jika diiringi dengan luka berkepanjangan yang dialami warga sipil? Tak hanya luka yang tampak, sebab warga sipil juga menanggung trauma pedih yang jauh lebih parah dari bayangan kita semua. Hal tersebut mengarah pada pertanyaan yang tampak tak mudah untuk dijawab, yakni “Apakah Palestina bisa pulih?”
Jawaban dari pertanyaan “Apakah Palestina bisa pulih?” bergantung pada peran dan kehadiran seluruh warga dunia. Sejauh mana peran yang sudah diberikan untuk turut menghadirkan keadilan dan bantuan untuk Palestina? Maka, jawaban dari pertanyaan “Apakah Palestina bisa pulih?” adalah bisa, namun dengan beberapa syarat berikut:
- Hentikan Serangan Secara Keseluruhan
Bukan merupakan kabar baru bahwa media internasional sengaja dilemahkan untuk menggugurkan tingkat kepekaan dan kepedulian warga dunia. Sejak gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025, Government Media Office Gaza melaporkan bahwa Israel Defense Forces (IDF) telah melanggar gencatan senjata lebih dari 500–591 kali. Artinya, bahkan ketika terdapat kesepakatan gencatan senjata pun, keamanan dan kenyamanan Palestina tak kunjung terjamin. - Palestina Dililit Political Theater
Ramai spekulasi bahwa gencatan senjata yang berulang kali diberlakukan bukan bermaksud untuk menjanjikan kebebasan dan kemerdekaan untuk Palestina, melainkan hanya sebuah teater politik. Teater politik ini bertujuan untuk menimbulkan sebuah ilusi akan upaya perdamaian, yang mana pada kenyataannya tak demikian. Jauh dari hasil ‘damai’, sebab permainan politik ini justru menyulitkan dan membuat kondisi krisis terasa semakin pelik, seperti yang terjadi di konflik Palestina.
Gencatan senjata pada Oktober 2025 bukan merupakan yang pertama kali. Fakta tersebut kemudian menimbulkan tanda tanya besar, bahwa krisis kemanusiaan di Palestina semakin tampak seperti permain politik. Untuk benar-benar memulihkan Palestina dan mendapatkan jawaban dari pertanyaan ‘Apakah Palestina bisa pulih?” adalah dengan memastikan bahwa permainan politik benar-benar ditiadakan. - Dukung Pemulihan Infrastruktur
80% – 90% infrastruktur Palestina lumpuh sepenuhnya, tak menyisakan ruang untuk mereka bangkit kembali dalam waktu dekat. Untuk bisa kembali pulih, dibutuhkan dukungan yang kuat, dimulai dari dukungan logistik hingga mental.
Hingga Desember 2025, kabar blokade bantuan masih merajalela. Hal ini menyulitkan Palestina untuk bisa pulih sepenuhnya dan keluar dari lingkaran krisis yang mencekik.
Kabar baiknya, untuk mengisi peran dalam mendukung pemulihan infrastruktur Palestina ini tak terbatas apa pun. Siapa saja, termasuk kita, bisa turut andil dalam membantu Palestina pulih dari seluruh kehancuran yang tampak dan tidak.
Untuk membantu memulihkan Palestina, Cahaya Peduli Islam berkomitmen untuk hadir dan menjadi cahaya di titik gelap mereka. Jika ini terasa seperti panggilan kemanunsiaan dan memantik rasa kemanusiaanmu, silakan akses program yang masih berlangsung pada tautan berikut: https://cahayapeduli.id/campaign/bantupalestinapulihcpi.
Jawaban dari “Apakah Palestina Bisa Pulih?” Berada Pada Kita!
Jawaban dari “Apakah Palestina bisa pulih?” adalah bisa, namun tetap bergantung pada penggeraknya, yakni kita semua. Hal ini mencakup poin tentang bagaimana dunia merespon krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Jika kondisi krisis mereka terus disepelekan dan dianggap sebagai hal yang normal, maka pemulihan Palestina akan terus menjadi pertanyaan yang selamanya terombang-ambing.
