Perjalanan bantuan itu panjang. Berliku. Dan jujur saja—tidak mudah.

Proses packing Winter Project Palestina dilakukan sejak 8–18 Desember, ketika musim dingin mulai menggigit tulang, terutama bagi mereka yang hidup tanpa dinding, tanpa pemanas, bahkan tanpa kepastian esok hari. Kardus demi kardus disiapkan, bukan sekadar berisi bantuan, tapi juga harapan yang diselipkan diam-diam.


Namun, setelah packing selesai, perjuangan belum selesai. Justru baru dimulai.
Akses penyaluran dari gudang distribusi di Jordania menuju Palestina menjadi tantangan besar. Jalur kemanusiaan yang seharusnya terbuka, nyatanya penuh batas. Salah satu hambatan utama adalah aturan minimum jumlah truk yang diperbolehkan masuk dalam satu sesi distribusi, yaitu 100 truk sekaligus. Artinya, bantuan tidak bisa berjalan sendiri. Ia menunggu—menunggu dunia bergerak bersama.

Butuh kerja sama bantuan internasional dalam jumlah besar, sinkronisasi lintas lembaga, dan koordinasi panjang agar kuota truk terpenuhi. Di sisi lain, ancaman juga terus mengintai. Risiko penjarahan, penghentian paksa, hingga intervensi oleh pihak Israel menjadi bayang-bayang yang selalu mengikuti tiap meter perjalanan bantuan.
Waktu berjalan lambat, tapi harapan dipaksa tetap hidup.


Akhirnya, setelah melewati berbagai hambatan itu, bantuan Winter Project Palestina tiba di Gaza Utara pada 23 Januari. Sebuah tanggal yang mungkin terlihat biasa di kalender, tapi sangat berarti bagi mereka yang menunggu di tengah dingin dan keterbatasan.
Dalam penyaluran ini, bantuan musim dingin berhasil menjangkau:
-
768 KK di Gaza Utara
-
300 KK di Camp Jordania
Dengan total 1.068 KK penerima manfaat.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada anak-anak yang akhirnya punya selimut, orang tua yang bisa sedikit menghangat di malam hari, dan keluarga yang kembali percaya bahwa dunia belum sepenuhnya diam.
Winter Project Palestina bukan tentang cepat atau mudah. Ia tentang bertahan, tentang sabar yang dipanjangkan, dan tentang solidaritas yang tak kenal batas negara. Bantuan ini sampai bukan karena jalannya lapang, tapi karena banyak tangan memilih untuk tetap saling menggenggam.
Mohon doa dan dukungan agar jalur kemanusiaan tetap terbuka, agar bantuan berikutnya tak harus menunggu terlalu lama, dan agar mereka yang bertahan di Palestina terus dikuatkan—di musim dingin yang belum selesai, dan luka yang masih terbuka.