
“Saya cuma gak mau jadi yatim piatu... Meski sulit jalan dan sering ketiduran di jalan karena kelelahan, saya tetap cari nafkah demi beli obat untuk Ibu...” ucap Suhaelan (11) dengan mata berkaca-kaca.

Di usia ketika anak-anak lain pulang sekolah lalu bermain, Suhaelan justru memulai “hari keduanya”.
Ia mengambil dagangan, lalu berjalan berkeliling menawarkan jajanan dari rumah ke rumah.
Langkahnya pelan.
Salah satu kakinya tidak normal, membuatnya sulit berjalan seperti anak-anak lain. Setiap langkah terasa lebih berat, lebih lama… dan kadang menyakitkan.
Ayahnya telah pergi. Kini, ibunya terbaring sakit. Tak ada lagi yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri.
Setiap jajanan yang ia jual seharga Rp2.000, hanya memberinya keuntungan sekitar Rp300. Jika seluruh dagangan habis, ia hanya membawa pulang sekitar Rp5.000. Dan sering kali, dagangannya tak laku, berujung Suhaelan yang kelelahan hingga ketiduran di pinggir jalan.
Bagaimana jika uangnya tak cukup?
Bagaimana jika ibunya tak bisa bertahan?
Bagaimana jika ia benar-benar harus hidup sendiri… tanpa ayah dan ibu?
Di tengah semua itu, Suhaelan masih ingin satu hal: Tetap sekolah. Namun kini, biaya yang menunggak ikut menghantui pikirannya—bersama rasa lapar dan cemas yang tak pernah benar-benar pergi.
Teman Baik, dengan langkah yang tak sempurna, Suhaelan tetap berjalan sejauh ini. Hari ini, kita bisa jadi alasan langkahnya terasa lebih ringan—dan harapannya tetap ada.
1. Klik tombol “DONASI SEKARANG"Langkahnya mungkin terbatas, tapi perjuangannya tak pernah berhenti. Hari ini, bantuanmu bisa jadi kekuatan agar ia terus melangkah. Terima kasih atas kebaikanmu ya, Teman Peduli!
![]()
Belum ada Fundraiser