
“Bu… opak saya ditukar beras boleh? Istri saya sudah dua hari belum makan, lagi sakit…” ucap Kakek Mali (80) pelan.
Sejak subuh, Kakek Mali sudah berjalan menyusuri jalanan desa, memanggul opak dagangannya. Langkahnya pelan, tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Tapi ia terus berjalan—hingga matahari terbenam.

Di rumah, sang istri terbaring lemah. Usia yang menua membuat tubuhnya mudah jatuh sakit. Obat dibutuhkan, tapi sering kali harus dikalahkan oleh kebutuhan makan.
Setiap hari, Kakek Mali memilih tetap berangkat. Menjadikan harapan kecil itu sebagai alasan untuk terus bertahan.
Pikulan seberat belasan kilo menggantung di pundaknya. Jarak yang ditempuh tak dekat—puluhan kilometer, dengan tenaga yang semakin menipis.
Sering kali, langkahnya terhenti di tengah jalan.
Bukan karena ingin beristirahat… tapi karena tubuhnya sudah tak mampu lagi.
Ia pernah jatuh pingsan.
Ia juga tak jarang berjualan dengan perut kosong.
Kalau opaknya tak laku, berarti tak ada yang bisa dimakan hari itu. Rp20.000 pun sudah cukup membuatnya bersyukur. Tapi tak setiap hari ada yang membeli.
Saat lapar tak lagi tertahan, Kakek memberanikan diri singgah ke warung. Menawarkan opaknya… ditukar dengan beras.
Namun, tak semua pintu terbuka.
Dan Kakek hanya bisa melangkah pergi, membawa kembali opaknya—dan rasa yang sulit dijelaskan.
Ketika ditanya tentang keinginannya, Kakek Mali hanya tersenyum tipis. “Saya nggak minta apa-apa… yang penting bisa makan tiap hari, masih kuat jualan, dan ada uang buat beli obat istri.”
Sederhana.
Tapi bagi Kakek, itu adalah harapan yang terasa begitu jauh.
Hari ini, kita bisa jadi alasan ia dan istrinya tidak lagi menahan lapar. Bisa jadi alasan mereka tetap bertahan… di hari-hari yang tersisa...
Cara Membantu:1. Klik "DONASI SEKARANG"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran
4. Ikuti langkah selanjutnya dan selesaikan proses pembayaran
Lapar dan sakit tidak bisa menunggu. Bantu sekarang, sebelum hari ini kembali terlewati tanpa makanan!
![]()
Belum ada Fundraiser