


“Saya malu, sering dijauhi karena aroma dari wajah yang tak lagi utuh ini. Tapi saya harus tetap bekerja... demi anak-anak.” – Pak Koko.

Di usia 60 tahun, seharusnya Pak Koko bisa beristirahat dan menikmati masa tua dengan keluarga. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Pak Koko harus menahan nyeri luar biasa dari tumor yang perlahan-lahan menghancurkan wajahnya.

Sudah 4 tahun Pak Koko mengidap tumor yang terus tumbuh dan menjalar. Kini mata kirinya telah hilang, digerogoti tumor yang tak kunjung diobati karena tak ada biaya. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin mata kanannya juga akan ikut hilang.

Meski kondisinya memprihatinkan, Pak Koko tak pernah berhenti berjuang. Demi istri dan 8 anaknya, tiga di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar, beliau tetap bekerja sebagai buruh tanam singkong dan serabutan di kebun milik orang.

Dengan penghasilan tidak pasti, makan sehari-hari saja sering tak cukup, apalagi untuk biaya pengobatan. Lebih menyakitkan lagi, penyakit ini juga menggerogoti harga dirinya.
Pernah, saat hendak shalat Jumat, orang-orang menjauh karena aroma dari wajahnya.

Sang istri pun turut berjuang, menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah jika ada tetangga yang membutuhkan. Tapi penghasilan mereka jauh dari cukup.
–
Donasi dari teman-teman nggak hanya disalurkan untuk Pak Koko saja. Namun beliau juga setuju dan memberikan izin ke Cahaya Peduli Islam untuk menyalurkan bantuan di galang dana ini ke penerima manfaat lainnya dengan kebutuhan serupa.
![]()
Belum ada Fundraiser