

Di balik tatapan mata mereka, ada kisah pilu yang tak pernah terucap..

Di sebuah rumah sederhana di Tasikmalaya, kini tinggal 10 ekor anjing yang tengah berjuang untuk hidup. Mereka bukan sekadar hewan terlantar, mereka adalah korban kekerasan.

Ada yang dibacok hingga harus diamputasi, ada yang disiram air panas, dilempari batu, bahkan ditemukan dengan mulut terikat dan tubuh penuh luka. Mereka semua diselamatkan oleh Bu Imas.

Semua berawal ketika Bu Imas, seorang pecinta hewan, menemukan seekor anjing dengan kondisi mengenaskan, tubuh penuh luka dan hampir mati kelaparan. Sejak saat itu, pintu rumahnya selalu terbuka bagi setiap anjing yang datang.

Kini, rumahnya berubah menjadi Shelter Anjing Tasik, tempat terakhir yang memberi harapan untuk mereka yang pernah dibuang dan disakiti. Merawat para anjing korban penyiksaan tidaklah mudah. Banyak dari mereka yang trauma, agresif, dan ketakutan.

Setiap hari, Bu Imas harus menyiapkan makanan, membersihkan luka, memberi obat, dan membawa mereka ke dokter hewan jika diperlukan. Biaya makan saja mencapai Rp150.000–Rp200.000 per hari, belum termasuk biaya vaksin, operasi, dan transportasi ke klinik.

Selama ini, semua biaya ditanggung oleh Bu Imas sendiri dengan bantuan beberapa relawan. Namun, semakin lama, jumlah anjing yang datang semakin banyak, dan beban biaya semakin berat.

![]()
Belum ada Fundraiser