
Kita sudah sering dibekalkan keutamaan menyantuni yatim. Namun, sejauh mana kita memaknai keutamaan tersebut? Selama ini, bisa jadi masih banyak dari kita yang hanya memandang keutamaan tersebut sebagai sebatas pengetahuan tanpa adanya dorongan untuk benar-benar mengamalkannya. Padahal, anjuran tersebut datang langsung dari Allah, beserta janjinya bahwa bagi siapa yang mengasihi anak yatim, maka Allah akan selalu membersamai sepanjang hidupnya.
Pada tulisan ini, mari bahas beberapa keutamaan menyantuni yatim. Harapannya, dengan memaknai poin-poin keutamaan yang ada, hati kita tergugah untuk menunaikan amalan baik ini.
Keutamaan Menyantuni Yatim; Lima Nilai Keteladanan
Lebih dari sekedar meringankan penderitaan anak yatim, keutamaan menyantuni yatim juga diartikan sebagai modal kesejahteraan hidup mereka. Anak yatim yang hidup tanpa sosok ayah ditempatkan pada posisi yang rawan. Mereka adalah golongan yang dekat dengan kondisi kekurangan. Ancaman seakan menunggu di depan mata; tak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan, tak ada jaminan makan sehari-hari, kebutuhan pokok tidak terpenuhi, dan masih banyak lagi. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi sesama Muslim untuk saling menjaga dan mengasihi, terutama mereka golongan yatim yang memang dianjurkan untuk dimuliakan.
Berikut beberapa keutamaan menyantuni yatim:
- Memperoleh kedekatan dengan Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda bahwa umat Muslim yang memuliakan golongan yatim adalah mereka yang akan berkumpul dengan Rasulullah di surga kelak. Maka, tak ada alasan untuk tidak memuliakan dan menyantuni mereka golongan yatim. Untuk mengamalkan hal ini, bisa dimulai dengan langkah sesederhana melihat dan memahami kehidupan golongan yatim yang tak mudah. Lalu, dari situ akan muncul panggilan hati untuk hadir dan meringankan penderitaan yang ada.
- Sebagai pembuka pintu rezeki. Di setiap rezeki yang diberikan kepada golongan yatim akan menjadi amalan baik yang berbalik kepada pemberinya. Sebab, doa anak-anak yatim adalah doa yang tak akan ditolak Allah, termasuk di setiap harap baik yang menyertakan nama kita di dalamnya. Maka, mengasihi mereka sama dengan membuka pintu rezeki dan membuka peluang kebaikan lainnya di masa mendatang. Tentunya, sangat disayangkan jika hal ini tak dimanfaatkan dengan baik oleh kita.
- Melembutkan hati dan jiwa. Memutuskan untuk memberi dan memuliakan golongan yatim tentunya memerlukan bekal empati yang tinggi. Untuk kemudian membulatkan niat memberi dan berbagi pada golongan yatim yang membutuhkan merupakan bentuk pembuktian kelembutan hati dan jiwa.
- Bentuk syukur atas rezeki yang dititipkan Allah. Pada dasarnya, setiap rezeki yang dimiliki seorang Muslim adalah titipan dari Allah. Nantinya, rezeki itu menjadi ujian dan amanah yang menjadi tanggung jawab pemegangnya. Salah satu bentuk syukur atas rezeki yang dimiliki adalah dengan menggunakannya dengan bijak dan baik, serta mengingat bahwa terdapat persenan di rezeki tersebut yang merupakan hak mereka yang berhak menerimanya, salah satunya adalah golongan yatim.
- Memperkuat nilai persaudaraan. Allah menyukai hamba-Nya yang rukun dan saling membantu. Maka, posisi golongan yatim yang rentan berhak untuk diberikan dukungan oleh mereka yang lebih mampu. Selain itu, sifat berbagi dan saling peduli ini akan memperkuat nilai persaudaraan sesama Muslim.
Mereka Menanti Bantuan Kita!
Kondisi nyata anak yatim di Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan realita yang menyayat hati. Kemiskinan, kelaparan, serta ancaman kehilangan tempat tinggal menyertai setiap napas mereka. Tak merasa aman dan tenang dalam menjalani hidup, banyak dari mereka yang menghabiskan hari di panti dan pondok pelosok dengan keadaan miris, berharap bantuan dan kemudahan akan datang melalui tangan-tangan baik yang dijadikan perantara oleh Allah.
Maka, keutamaan menyantuni yatim menjadi langkah konkret untuk mengasihi mereka dengan ketulusan dan kepedulian. Dengan memperhatikan mereka, kita memenuhi anjuran Rasulullah. Selain itu, kita juga sekaligus memberikan harapan kepada golongan yatim untuk hidup dengan cahaya.
