Palestina masih krisis kemanusiaan

Palestina masih krisis kemanusiaan! Kabar tersebut terasa seperti pengulangan sejarah, penegasan bahwa apa yang sudah terjadi selama menahun merupakan konflik yang tak kunjung usai. Pada awal Oktober 2025, media ramai membahas kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan secara resmi. Namun, bahkan ketika Palestina dinyatakan merdeka secara diplomatis, penderitaan mereka belum usai. Luka akibat genosida masih membekas pada duka di raut wajah warga sipil, tembok bangunan yang runtuh tak bersisa, serta tanah yang menjadi kuburan terluas di banyak wilayah Palestina. Lantas, jika benar Palestina masih krisis kemanusiaan, apa tindakan yang harus dilakukan?

Situasi Kemanusiaan Terkini: Bukti Palestina Masih Krisis Kemanusiaan

Terdapat berbagai alasan mengapa dunia belum boleh melepaskan Palestina untuk mandiri, salah satu alasan terkuatnya adalah karena Palestina belum bisa lepas dari dukungan masyarakat dunia. Hingga hari ini, krisis kemausiaan dari pangan hingga air bersih masih menjadi ‘pembunuh’ bayi hingga lansia.

Meski laporan resmi dari United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) menyebutkan bahwa lebih dari 86 % wilayah Gaza sudah berada dalam zona militerisasi atau bawah perintah pengungsian, namun warga sipil masih belum merasakan kehidupan normal selayaknya sebelum genosida. Selama mereka masih kesulitan memenuhi hak hidupnya, terutama akses pangan dan air bersih, bukankah mereka masih hidup di bawah penderitaan yang sama?

Krisis Pangan Terus Meluas

Data menunjukkan bahwa krisis kelaparan di salah satu wilayah Gaza akan meluas ke wilayah lainnya dengan mudah. Meski krisis kelaparan bukan merupakan wabah yang menular, namun nyatanya krisis ini mudah menjamah mereka yang memang hidup dengan imun lemah dan tanpa jaminan gizi aman. Lagi-lagi, kasus ini menunjukkan bahwa Palestina masih krisis kemanusiaan. 

Tingkat malnutrisi akut di Kota Gaza mencapai 18,5 %, menurut United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA). Bayangkan bayi dan anak-anak yang tak bisa memenuhi kebutuhan gizinya karena keadaan. Jika memang kesepakatan gencatan senjata dianggap bisa meringankan krisis kelaparan seperti ini, mengapa tak kunjung terlaksana juga? Lebih dari sekali gencatan senjata disepakati kedua belah pihak, namun kekhawatiran warga sipil akan krisis pangan tak kunjung dicium perubahan.

Sebenarnya, apa arti dari gencatan senjata jika blokade tetap diperketat dan serangan tetap dilancarkan, misal dari aspek mental—fisik pun.

Bagaimana Cara untuk Membantu Warga Palestina?

Selain krisis pangan dan sanitasi air, warga Palestina juga bergelut dengan krisis tempat tinggal. Semenjak Israel terus menargetkan serangan ke wilayah pemukiman, warga kerap berpindah dari tempat satu menuju tempat lainnya demi bisa tinggal—berharap untuk berlindung dari rasa aman dianggap terlalu mustahil.

Dari musim panas yang mencekik hingga musim dingin di penghujung tahun yang menyesakkan, tak ada kelayakan yang diterima warga sipil. Anak-anak hingga lansia membopong barang-barang yang bisa dijadikan alat tempur untuk bertahan hidup di segala kondisi. Tak mudah, barangkali mereka sudah memahami itu bahkan jika tak ada yang memberi peringatan. Namun, apakah kesulitan mereka dengan hidup berpindah-pindah tanpa jaminan aman lantas menjadi pemakluman di mata dunia? Atas dasar apa suatu negara dibuat terombang-ambing bahkan untuk sekedar hidup di tanah kelahirannya sendiri?

Melihat krisis di atas, lantas apa yang bisa dilakukan untuk setidaknya menghibur para warga sipil? Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan tidak meninggalkan mereka di krisis kemanusiaan ini. Terus hadir dan menyebarkan berita tentang ketidakadilan yang mereka alami selama ini. Lebih baik lagi untuk berkontribusi langsung dengan mengirimkan bantuan nyata. Segala media dan upaya yang ditempuh dunia adalah bukti kepedulian untuk mereka yang masih berjuang dan mencari suaranya di Palestina. Dengan meringankan penderitaan mereka, kita membantu memastikan kondisi Palestina masih krisis kemanusiaan dapat teratasi sepenuhnya.

Jika bukan sesama manusia yang menolong, maka warga Palestina harus memohon bantuan dan kepedulian kepada siapa lagi?