Anak-Anak Dhuafa Kekurangan Gizi

Jika kita tak merasa familiar dengan kondisi serba kurang sebab kita biasa dengan kondisi serba berlimpah, apakah itu adalah hal yang patut dibanggakan? Bukankah kita berbahagia di atas mereka yang berjuang dan tercekik masa sulit? Hingga hari ini, masih banyak anak-anak dhuafa kekurangan gizi di seluruh penjuru negeri. Padahal, merupakan tugas kita untuk memuliakan dan meringankan kesulitan yang mereka rasakan.

Tak memerlukan jarak pandang jauh, sebab di pinggiran kota pun banyak pemandangan panti dengan anak-anak dhuafa di dalamnya yang menahan lapar untuk beberapa hari lamanya. Jika beruntung, mereka bisa percaya pada janji “Sebentar lagi rezeki datang…”, tapi, bagaimana jika tidak?

Melalui tulisan ini, mari bahas kenyataan pahit yang masih sering dijumpai di sekeliling kita, yakni anak-anak dhuafa yang kekurangan gizi.

Saat Anak-Anak Dhuafa Kekurangan Gizi, Harapan Mereka Luntur

Sungguh ironi melihat bagaimana untuk sesederhana bermimpi saja, anak-anak dhuafa merasa menghadapi garis pembatas, sadar betul bahwa mereka tak punya cukup kapasitas untuk percaya kepada eksistensi masa depan. Di tubuh-tubuh mungil itu, mereka menahan gemetar yang hebat karena sudah terlalu lama tak diisi asupan penuh gizi.

Tak hanya luka dan kepedihan yang tampak, namun juga ketakutan dan kekhawatiran tak terlihat yang dirasakan, seperti harapan menuntut ilmu yang perlahan luntur. Tanpa gizi yang terpenuhi, mereka tak punya banyak kekuatan untuk mengejar peringkat atas. Jangankan untuk fokus dan menjadi unggul, sebab untuk bertahan saja mereka nyaris menyerah. Alhasil, mereka tercetak menjadi generasi yang menunduk dan berpasrah. 

Dengan kesadaran penuh, mereka terpaksa mendorong mimpi-mimpi di masa depan, seakan hal tersebut terasa lebih ‘melindungi’ dibandingkan memaksakan dan memberanikan diri untuk kuat. Di masa yang dipenuhi tanda tanya dan keinginan belajar yang tinggi, mereka justru tumbuh menjadi anak-anak banyak menerima takdir pedih.

Lingkaran Kemiskinan yang Terus Berputar pada Poros yang Sama

Penyebab utama anak-anak dhuafa kekurangan gizi berakar pada kondisi ekonomi dan kemiskinan dari keluarga aslinya. Jika tidak, tak mungkin anak-anak berakhir di panti atau pondok yang tak memerlukan dana. 

Lantas, tanpa adanya perubahan, bukankah besar kemungkinan bahwa anak-anak dhuafa tersebut meneruskan nasib yang sama untuk keturunan mereka kelak? Fakta pahitnya, fenomena tersebut sudah mengakar pada masyarakat negeri ini selama menahun. Namun, perlu diakui juga bahwa menuntut perubahan struktur tak semudah yang diucapkan. Karena perubahan memerlukan waktu, anak-anak dhuafa terpaksa bersabar dan bertahan di kondisi yang tak mereka inginkan.

Mengapa Harus Memuliakan Mereka?

Lebih dari sekedar generasi masa depan, anak-anak dhuafa kekurangan gizi juga merupakan salah satu golongan yang Allah anjurkan untuk kita muliakan. Bahwa, apalah artinya keberlimpahan yang kita miliki jika sebagian persennya tidak diberikan kepada mereka yang membutuhkan?

Bisa jadi, ini adalah kesempatan yang Allah siapkan agar kita menjadi perantara rezeki dan kasih sayang untuk mereka. 

“Tidaklah seorang mukmin yang memberi makan kepada mukmin lainnya yang lapar, melainkan Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi).

Lantas, bagaimana untuk bisa menjangkau mereka yang berjarak dari kita? Kini, Cahaya Peduli Islam siap hadir untuk menjembatani niat baik yang ingin disalurkan pada anak-anak dhuafa kekurangan gizi di luar sana. Setiap bantuan yang diberikan; sendok demi sendok berisikan nasi dan lauk pauk, akan menjadi pengubah masa depan anak-anak yang membutuhkan. Untuk info selengkapnya, silakan akses tautan berikut: https://cahayapeduli.id/campaign/bantupantianakcpi.