Penyerangan sekolah gaza
Penyerangan sekolah gaza

Hingga Mei 2025, penyerangan sekolah Gaza telah terjadi dalam jumlah yang tak sedikit. Pada tanggal 25 Mei 2025, penyerangan terjadi ke sekolah Fahmi Al-Jarjawi di lingkungan Al-Daraj, Gaza. Karena sudah tak bisa lagi berfungsi sebagai sekolah atau tempat para murid menuntut ilmu, maka sekolah ini beralih fungsi menjadi pusat perlindungan bagi ratusan warga sipil yang sudah tak memiliki tempat tinggal. Di sini, para warga bernaung dan istirahat setiap malamnya. Setidaknya, itu lebih baik dibandingkan berada di tenda pengungsian yang tipis dan tak selalu cukup untuk menampung banyak anggota keluarga. Namun, siapa sangka bahwa kini tak ada titik aman bagi para warga sipil, termasuk bekas sekolah?

Penyerangan Sekolah Gaza: 36 Orang Tewas!

Menurut laporan, 38 orang tewas, termasuk 18 anak-anak dan 6 wanita. Selain itu, 55 orang lainnya terluka. Kawasan sekolah terbakar nyaris 90%, membuat tim yang hendak membantu mengalami kesulitan. Kobaran api terus membesar dan meluas, melahap seluruh area sekitar. 

Pada klip yang beredar di media, terlihat seorang anak berusia enam tahun, Ward Jalal Al-Shaikh Khalil, sedang berlarian mencari jalan keluar di tengah kobaran api. BBC pada artikelnya, “Young Girl Escapes Burning Gaza School after Israeli Attack”, melaporkan bahwa anak tersebut mencoba untuk menyelamatkan diri. Sebab, Ibu dan dua saudaranya sudah tewas. Setelah berhasil diselamatkan dari titik kejadian, anak tersebut dirawat intensif di salah satu rumah sakit dengan banyak luka bakar.

Tak terbayang bagaimana para korban ketakutan dan berusaha untuk menyelamatkan dirinya di tengah kondisi yang sulit. Bahkan, di antaranya masih banyak anak-anak yang membutuhkan pendampingan dari orang dewasa. 

Kerusakan Akibat Penyerangan Sekolah Gaza

Kerusakan fisik akibat serangan terlihat jelas dari bangunan sekolah yang terbakar parah. Beberapa ruang kelas hancur total dan penyebaran api berlangsung secara cepat. Tak hanya itu, banyak juga ruangan yang tak bisa dibuka sehingga membuat korban mau tak mau terjebak begitu saja.

Puing-puing di sekitar sekolah pun berserakan hingga hari berikutnya. Ledakan yang besar mengakibatkan kerusakan seutuhnya pada fasilitas pendidikan. Ke depannya, kecil harapan untuk membuat sekolah ini berfungsi kembali. Jika tak sebagai pusat pembelajaran, maka sebagai pusat perlindungan bagi warga sipil yang membutuhkan.

Penyerangan Sekolah Gaza Kerap Merugikan Warga Sipil, Israel Mendapat Kecaman dari Internasional

Penyerangan sekolah Gaza yang kerap dilakukan Israel memicu kecaman internasional. Banyak negara yang menyerukan penghentian serangan dari Israel, seperti Jerman dan Spanyol. Berbagai konferensi sudah berlangsung, meski tak semuanya membuahkan sanksi nyata, yakni pemberhentian serangan sepenuhnya.

Genosida sudah berlangsung sejak lama. Akibatnya, pihak Palestina paling banyak dirugikan karena penyitaan lahan dan penyerangan yang tak ada hentinya. Hanya dalam semalam, Israel bisa menghabiskan wilayah pemukiman dengan satu serangan udara saja. Hal ini juga diperburuk dengan blokade yang meluas setiap harinya.

Anak-anak dan wanita menjadi sasaran utama. Penyerangan sekolah Gaza hanya merupakan salah satu bukti kekejaman militer Israel. Sebab, selain itu, terdapat serangan-serangan lainnya seperti serangan yang menargetkan rumah sakit, rumah ibadah, dan masih banyak lagi.

Angka Kematian Terus Bertambah!

Sejak Oktober 2023, jumlah korban kini mencapai angka 60.000 jiwa. Setiap kabar yang datang mengenai serangan tak hanya menghancurkan bangunan, namun juga masa depan Palestina. Jutaan warga yang masih bertahan sedang bersusah payah menghidupkan semangat bertahan hidup dalam dirinya masing-masing. Tak mudah, namun mereka tak pernah berhenti berharap untuk mendapatkan keadilan dan hak hidup yang disita oleh aksi genosida ini.