Angka kematian akibat kelaparan di Gaza meningkat
Angka kematian akibat kelaparan di Gaza meningkat

Menurut laporan The Guardian terkait serangan udara terbaru yang dilancarkan Israel kepada Palestina, setidaknya 40 orang warga sipil menjadi korban. Para korban tersebar di beberapa wilayah Gaza, termasuk Bureij dan Khan Younis. Tak hanya itu, Beit Lahiya juga termasuk ke wilayah yang menjadi target serangan Israel. Akibatnya, puluhan warga syahid hanya dalam semalam. Bukan tak mungkin angka kematian terus bertambah, sebab kurangnya tenaga dan kelengkapan medis masih dan akan terus menjadi permasalahan utama. Banyak pasien terlantar begitu saja. Ambulan berdatangan, namun rumah sakit serat ruang untuk menampung korban. Alhasil, banyak dari mereka yang terpaksa dibaringkan begitu saja di lantai atau lorong dengan penanganan pertama seadanya. Tak hanya itu, laporan terkait serangan terbaru di Gaza juga menyebutkan bahwa angka kematian akibat kelaparan di Gaza meningkat. Hingga Mei 2025, angka kematian karena kelaparan masih menjadi yang tertinggi.

Angka Kematian Akibat Kelaparan di Gaza Meningkat: Anak-Anak dan Lansia yang Paling Merasakan Dampaknya

Puluhan, ratusan, hingga ribuan korban terus bertambah karena kelaparan. Sejak serangan terus dilancarkan Israel, blokade massal juga turut diberlakukan. Hal itu membuat warga sipil kesulitan menjangkau dan menerima bantuan pangan yang mereka butuhkan. Wanita dengan keadaan mengandung terpaksa kekurangan asupan hingga kemudian melahirkan bayi yang sudah dalam kondisi malnutrisi sejak baru dilahirkan. Penderitaan serupa juga dialami anak-anak dan para lansia. Karena jauh dari kondisi sehat, tak mudah bagi mereka untuk bisa bertahan di tengah krisis pangan. Sehari-harinya mereka hanya mengandalkan stok pangan seadanya yang kian menipis seiring berjalannya waktu.

Angka kematian akibat kelaparan di Gaza meningkat setiap waktu. Tak disangka-sangka, kematian karena kelaparan menjadi permasalahan yang terus menghantui warga sipil sejak beberapa tahun belakangan hingga hari ini. Tak ada upaya yang jelas untuk menangani krisis ini, sebab mereka terus dibuat sulit dan jauh dari distribusi bantuan. Laporan terakhir menyebutkan bahwa 57 orang, sebagian besarnya adalah anak-anak menjadi korban karena kelaparan. Bahkan, seorang bayi perempuan meninggal karena kekurangan gizi dan dehidrasi akut di Rumah Sakit Al-Rantisi, Nasser, Gaza.

Penumpukan Truk Bantuan Pangan Tertahan di Perbatasan Gaza Menjadi Penyebab Angka Kematian Akibat Kelaparan di Gaza Meningkat!

Pada bulan Februari 2025 lalu, sempat diberlakukan kesepakatan gencatan senjata. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Israel dilarang keras untuk menyerang Gaza dalam bentuk serangan apa pun. Namun, sebelum, saat, bahkan setelah kesepakatan tersebut berlaku, Israel tak pernah berhenti melumpuhkan Gaza dengan berbagai serangan—darat dan udara.

Bersamaan dengan serangan itu, Israel juga terus memperluas blokade yang menyebabkan penumpukan truk bantuan di perbatasan Gaza. Selama itu juga warga sipil berupaya keras untuk bisa sekedar memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Mereka mencari makan di tumpukan sampah, berharap ada yang bisa ditemukan dan dijadikan santapan untuk mengganjal rasa lapar.

PBB melalui Program Pangan Dunia (WFP) telah memberi peringatan terkait krisis pangan dan malnutrisi yang semakin parah di Gaza. Menipisnya stok pangan dan penutupan perbatasan oleh Israel menjadi masalah yang seharusnya diperhatikan secara serius sebagai permasalahan global. Namun, masih banyak yang tidak menganggap permasalahan ini sebagai krisis kemausiaan yang sudah sepantasnya ditindaklanjuti dengan serius.

Perlu Menjadi Kekhawatiran Global, Angka Kematian Akibat Kelaparan di Gaza Meningkat!

Sejak eskalas kembali pada 18 Maret 2025, lebih dari 2.300 warga sipil telah menjadi korban. Angka tersebut menambah jumlah korban secara keseluruhan jika dijumlahkan sejak genosida memanas pada Oktober 2023 lalu. Sebagai angka total, setidaknya 55.000 jiwa syahid mulai dari anak-anak hingga lansia.

Tak ada alasan lagi untuk tak menganggap permasalahan genosida ini sebagai sesuatu yang memerlukan jalan keluar. Jika krisis kemanusiaan ini dibiarkan semakin berlarut dan parah, bayangkan akan berapa banyak korban yang kian menderita. Untuk itu, diperlukan kesadaran dari mata dunia agar angka kematian akibat kelaparan di Gaza yang meningkat ini bisa dihentikan secara sepenuhnya.

Salah Satu Upaya yang Digencarkan: Negosiasi Tanpa Henti

Hingga Mei 2025, negosiasi melalui upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata dan penghentian serangan secara sepenuhnya telah dilakukan. Namun, hingga saat ini Israel belum juga terlihat mengindahkan permintaan ini. Sebaliknya, Israel terus melangsungkan serangan tanpa peduli 60% hingga 70% wilayah Gaza sudah berhasil dilumpuhkan.

Tanpa adanya perlindungan nyata, angka kematian akibat kelaparan di Gaza—krisis kemanusiaan ini secara keseluruhan akan terus bertambah. Dengan begitu, dunia hanya akan bungkam tanpa menawarkan upaya penyelamatan dan pemulihan di wilayah terdampak. Dengan langkah bersama, tak akan ada lagi krisis yang harus dihadapi warga sipil, seperti angka kematian akibat kelaparan di Gaza meningkat.