
Serangan dari Israel ke Palestina terkini kembali merenggut banyak nyawa warga Palestina. Menurut laporan terkini, 50,700 korban jiwa syahid akibat serangan terbaru, dihitung sejak Oktober 2023. Dengan bertambahnya korban jiwa, warga Palestina diperparah dengan akses bantuan kemanusiaan yang sepenuhnya terblokade.
Bantuan yang tersedia tak mudah untuk didistribusikan kepada seluruh warga yang membutuhkan. Padahal, banyak rumah sakit dan kamp pengungsian yang membutuhkan kebutuhan pokok untuk tetap bertahan.
Namun, blokade yang melanda menyulitkan bantuan untuk disebarkan. Tak hanya itu, stok pangan dan air bersih pun menjadi sesuatu yang langka bagi banyak dari mereka. Hanya untuk mendapatkan menu makan dan air bersih untuk melepas kehausan, mereka harus antre demi mendapatkannya. Semua itu adalah sebagian kecil bukti penderitaan mereka beberapa waktu belakangan selagi konflik berkelanjutan berlangsung.
Serangan dari Israel ke Palestina Terkini Sasar Kamp Pengungsian dan Rumah Sakit
Dalam salah satu serangan dari Israel ke Palestina terkini, serangan ditujukan kepada rumah sakit Nasser, Khan Younis. Setidaknya 10 jurnalis menjadi korban serangan tersebut. Tubuh terbakar begitu saja, korban dan bangunan dilahap api tanpa ampun. Dilaporkan sejumlah jurnalis dilaporkan mengalami luka-luka, cedera parah, hingga amputasi di jari dan bagian tubuh lainnya.
Jika dihitung sejak gencarnya serangan awal, setidaknya 210 jurnalis syahid di medan Gaza. Banyak dari mereka yang syahid di tengah bertugas. Hal tersebut adalah bukti bahwa siapa pun tak akan luput dari serangan yang dilayangkan Israel ke Palestina.
Krisis Bantuan Memburuk di Tengah Serangan dari Israel ke Palestina
Sudah menjadi fakta yang tak bisa dipungkiri bahwa serangan dari Israel ke Palestina terkini juga memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah lama menjadi kawan mereka. UNICEF mencatat bahwa tidak ada satu pun bantuan kemanusiaan yang lolos memasuki jalur Gaza sejak Maret 2025. Hal itu dikarenakan blokade dengan masa terpanjang sejak perang dimulai.
Edouard Beigbeder, Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, menyatakan bahwa kondisi ini memperburuk krisis yang sudah dialami para warga Palestina. Satu bulan terakhir, tepatnya bulan Maret yang mana bulan Ramadan 2025, kelangkaan makanan dan air bersih masih melanda. “Masyarakat Gaza berjuang untuk bertahan hidup dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
Di bulan Ramadan, warga Palestina berlindung di balik reruntuhan bangunan. Dengan menu sahur dan berbuka yang seadanya, mereka menjalani hari dengan hati pilu. Jika tak ada lagi yang bisa dijadikan santapan, mereka hanya mengandalkan rumput dan dedaunan liar yang direbus. Tanpa kemewahan dan segala kondisi yang melampaui batas kelayakan, berjuang tanpa adanya bantuan jadi kegiatan harian.
Akibat serangan dari Israel ke Palestina terkini, ribuan warga Palestina yang masih bertahan kerap berpindah-pindah kamp pengungsian demi mencari tempat yang lebih aman. Sebab, banyak bom dan serangan lainnya yang menargetkan kamp pengungsian.
Dunia Bungkam, Palestina terus Diserang!
Redanya eskalasi militer yang diharapkan nyatanya tak kunjung terwujud. Serangan terhadap jurnalis, blokade bantuan, dan kehancuran infrastruktur memperparah penderitaan mereka yang di Palestina. Anak-anak hingga lansia nyaris tak ingat kapan hidup untuk sekedar hidup, bukan untuk terbebas dari penderitaan dan krisis kemanusiaan yang tak berkesudahan.
Per April 2025, jumlah korban yang sudah melampaui 50,700 jiwa tak seharusnya dibiarkan begitu saja. Dunia internasional terus didesak untuk mengambil langkah konkret demi menangani konflik berkelanjutan ini. Sebab, dilihat dari sisi manapun, tak ada fakta yang dapat memungkiri bahwa Palestina saat ini berada dalam kondisi terburuk mereka.
