
Gencatan senjata seharusnya menjadi momen di mana konflik bersenjata dihentikan demi mencapai kedamaian. Namun, situasi antara Palestina dan Israel tak demikian. Pada kenyataannya, penderitaan Palestina belum berhenti ketika gencatan senjata disepakati. Selama masa itu juga, Palestina masih menyambut banyak luka dan duka di waktu yang bersamaan. Lantas, bagaimana Israel melanggar gencatan senjata? Apa yang dilakukan Israel demi merugikan dan melumpuhkan Palestina di tengah masa gencatan senjata?
Berdasarkan laporan, Israel tetap melancarkan serangan bahkan di tengah masa gencatan senjata. Pada 18 Maret 2025, Israel menargetkan serangan di malam hari pada kamp pengungsian. Serangan itu melukai setidaknya 200 korban termasuk anak-anak dan wanita.
Hanya dalam semalam, lorong rumah sakit dipenuhi pasien yang menanti giliran untuk ditangani. Namun, pada akhirnya banyak yang berujung syahid karena kondisi yang terlampau parah atau ketersediaan alat medis yang tak memadai.
Fakta di atas adalah sekian dari banyaknya bukti bahwa Israel tidak menghormati kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Tak hanya itu, Israel juga masih dengan usahanya untuk melumpuhkan Palestina seutuhnya.
Bagaimana Israel Melanggar Gencatan Senjata? Dari Aneksasi Hingga Penyerangan Tiada Henti
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan yang diterima Komisi Tinggi HAM PBB (OHCHR) menyebut bahwa pemerintah Israel semakin agresif dalam memperluas permukiman ilegal di wilayah Palestina yang diduduki. Israel melakukan ekspansi permukiman ilegal di Tepi Barat Palestina—meninggalkan rasa takut dan terancam kepada warga Palestina.
Dalam laporan periode 1 November 2023 hingga 31 Oktober 2024, Israel memperburuk penderitaan rakyat Palestina. Aksi aneksasi dilakukan tak lain dan tak bukan untuk merenggut tanah Palestina sesuai tujuan utamanya sejak lama.
Pelanggaran lainnya yang dilakukan Israel selama periode gencatan senjata adalah meluncurkan serangan untuk menyerang warga Palestina yang berada di kamp pengungsian, rumah sakit, hingga masjid.
Sudah tak terhitung berapa banyak fasilitas dan infrastruktur yang hancur karena ulah Israel. Padahal, apa yang dihancurkan adalah sisa harapan terakhir dari warga Palestina yang masih bertahan.
Merampas Hak Hidup Warga Palestina yang Tak Bersalah
Selama masa gencatan senjata, Israel menargetkan Gaza Tepi Barat sebab tak bisa menyerang Gaza. Pada serangan itu, anak-anak yang bersekolah menjadi korbannya. Tak hanya itu, warga sipil lainnya yang tak bersalah juga kerap menjadi korban.
Fakta di atas membuktikan bagaimana Israel menganggap remeh kesepakatan gencatan senjata. Jika terus seperti ini, Palestina akan semakin jauh dari kesepakatan damai. Di sisi lainnya, Israel tak henti-hentinya mengancam dan membahayakan jutaan warga Palestina yang masih berjuang untuk sekedar bertahan.
Apa yang Bisa Dilakukan Agar Israel Berhenti Menyerang?
Aksi militer dari Israel yang melanggar HAM dan memperparah krisis kemanusiaan di Palestina sudah sepatutnya ditindaklanjuti. Sebab, selama ini Israel sudah sangat sewenang-wenang terhadap nyawa Palestina.
Selain itu, suara dunia juga sangat diperlukan untuk memastikan kemerdekaan dan kesejahteraan Palestina. Sudah cukup mereka tak merasakan kebebasan hidup. Selama ini, mereka selalu menghadapi keterbatasan dalam menjalani hari. Dengan membisu dan membiarkan mereka berjuang tanpa memberikan bantuan, mereka akan semakin larut dalam masa sulit ini. Untuk itu, tugas manusia yang peduli terhadap manusia lainnya adalah dengan terus menyuarakan keadilan untuk mereka sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pokok mereka demi menyambung hidup.
Hentikan Penderitaan Palestina Sekarang!
Setelah mengetahui bagaimana Israel melanggar gencatan senjata, upayakan segala hal demi mengamankan Palestina dari ancaman yang nyata. Dunia Internasional tidak seharusnya berdiam diri dan hanya menjadi saksi. Bagaimanapun, Palestina sudah mengalami terlalu banyak kehilangan dan kehancuran selama konflik ini berlangsung.