
Suara untuk menegakkan keadilan Palestina diorkestrasi oleh masyarakat dunia, termasuk melalui acara Nonton Bareng Dokumenter “No Other Land”. Acara ini diadakan pada Sabtu, 6 September 2025 lalu di Masjid Al-Asy’Ari UNISBA melalui acara BTP x FSLDK Bandung. Acara ini adalah salah satu buah dari pergolakan emosi yang menyatukan suara padu; memerdekakan Palestina dari genosida.
Bukan tanpa sebab, namun angka kematian di Palestina yang sudah menyentuh 60.000 jiwa menjadi salah satu penggerak hadirnya acara ini. Hingga 2025, terdapat berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat demi bisa menyuarakan hak Palestina. Upaya tersebut mulai dari March to Gaza hingga pelayaran kapal bermuatan bantuan kemanusiaan; Kapal Sumud Flotilla. Didasari dengan rasa kemanusiaan dan semangat menegakkan keadilan, Palestina disebut-sebut dalam setiap ratapan baik di media massa maupun di jalan raya.
Dokumenter “No Other Land”, Urgensi Pembebasan Palestina!
Dokumenter ini tak hanya sebatas tontonan, melainkan jendela menuju cerita yang banyak terpendam dan dilupakan. Melalui dokumenter “No Other Land” ini, penonton dibawa untuk mendengar dan melihat segala hal tentang Palestina. Selain itu, aspek lain selain visual juga memperkuat daya tarik dokumenter ini. Siapa saja yang menonton akan merasakan pedih yang sulit untuk diungkapkan, berdesakkan dengan keinginan untuk mewujudkan pembebasan sepenuhnya kepada Palestina.
Bertahun-tahun Palestina diabaikan di bawah konflik antar negara yang tak berkesudahan. Polemik politik yang kemudian menggeser dan mengaburkan nilai-nilai kemanusiaan diabaikan oleh dunia. Berjuang tanpa banyak dukungan, Palestina dibuat lumpuh melalui penyiksaan yang paling menyakitkan dalam wujud genosida.
Sejak genosida memuncak pada Oktober 2023 lalu, Palestina menerima serangan dengan berbagai bentuk. Mulai dari serangan udara, darat, hingga penggusuran tanah kelahiran, semua itu menjadi penderitaan yang ditelan mentah-mentah oleh warga sipil. Memasuki pertengahan 2025, lebih dari 85% tanah Palestina sudah berada di bawah kendali Israel. Akibatnya, Palestina terpaksa berpindah-pindah menuju wilayah yang dianggap lebih aman.
Pemenjaraan Hak Hidup Warga Palestina
Jika memang kedua belah pihak; Israel dan Palestina, membutuhkan penyelesaian untuk konflik awal mereka, apakah harus berbasis kekerasan dan pemenjaraan hak hidup warga Palestina?
Perserikatan antar negara yang mendesak pembebasan Palestina telah berlangsung selama menahun. Namun, apakah genosida sudah benar-benar dihentikan? Bukankah realita menunjukkan bahwa perdamaian terus ditangguhkan tanpa alasan yang kuat? Atas dasar apa Palestina dibiarkan menghadapi krisis demi krisis tanpa akhir?
Hak hidup warga Palestina dirampas begitu saja. Kini, Palestina menderita krisis kemanusiaan; pangan, air bersih, kelengkapan kesehatan di rumah sakit, dan masih banyak lagi. Warga dipaksa bertahan semampunya entah dengan cara apa yang akan mereka upayakan.
Maka dari itu, agenda penayangan dokumenter “No Other Land” bermaksud untuk menumbuhkan kesadaran bagi para penonton. Harapannya, dari sebuah karya akan menimbulkan tindakan nyata yang bermakna.
Terus Bersuara, Apapun Mediumnya!

Agenda penayangan dokumenter “No Other Land” adalah pengingat bahwa rakyat Palestina tak memiliki tempat lain untuk tinggal selain di tanahnya sendiri. Bahwa penderitaan dan krisis kemanusiaan yang mereka hadapi saat ini adalah sebuah upaya untuk tak membiarkan tanah kelahirannya dialihkan kepada negara lain.
Berjuang di tengah keterbatasan, Palestina membutuhkan banyak dukungan! Hingga hari ini, urgensinya sudah jelas, yakni memberikan bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan di tengah krisis kemanusiaan yang melanda.Mair bergerak dari medium dokumenter “No Other Land” menuju aksi untuk menguatkan perjuangan mereka! Kedepannya, terus dukung acara Cahaya Peduli Islam sebagai perpanjangan suara demi menegakkan keadilan warga Palestina!
