
Sebenarnya, kapan keadilan akan berpihak pada Palestina? Apakah aksi Global March to Gaza di Indonesia berbuah sesuatu?
Bukankah selama ini, dunia menyuarakan pembebasan dan pengembalian hak kemanusiaan yang dirampas genosida? Setelah semua upaya yang dilakukan, apa hasil yang dapat dirasakan rakyat Palestina?
Laporan meningkatnya angka kematian dan rusaknya infrastruktur yang ada di Palestina adalah jawaban dari pertanyaan “Sebenarnya, kapan keadilan akan berpihak pada Palestina?”. Berkaca dari hal tersebut, perlu seruan yang lebih keras serta usaha yang lebih banyak demi bisa mencapai tujuan yang selama ini diinginkan; memerdekakan Palestina dari derita genosida.
Aksi Global March to Gaza di Indonesia: Bukti Kepedulian Sekaligus Upaya untuk Mendesak Keadilan

Seruan “Free, Free, Palestine!” memenuhi langit Bandung melalui aksi Global March to Gaza di Indonesia. Pawai damai tersebut bertujuan untuk mendesak penghentian genosida. Sebab, memasuki pertengahan 2025, Palestina masih menghadapi penderitaan yang serupa; krisis kemanusiaan tanpa adanya bantuan nyata.
Hari itu, masyarakat berkumpul di Bandung. Berbagai aksi dilakukan, mulai dari berseru “Free, Free, Palestine!”, membuat reka adegan mengerikan antara warga Palestina dan tentara Zionis yang biasa menjadi konsumsi media, dan masih banyak lagi. Tentu aksi kemanusiaan tersebut adalah buah dari penderitaan Palestina yang tiada akhir.
Aksi Global March to Gaza di Indonesia dibungkus dalam berbagai bentuk. Selama ini, berbagai aksi diupayakan oleh masyarakat yang turut mempertanyakan keadilan yang selama ini tak didapatkan warga Palestina. Merasa bantuan terhenti di tembok blokade yang terus diperketat oleh Zionis, kini bantuan diupayakan melalui jalur laut.
Kapal Sumud Flotilla: Kapal Kemanusiaan dengan Muatan Bantuan Kemanusiaan
Indonesia bersama dengan 44 negara lainnya tergabung dalam sebuah aksi global untuk melayarkan bantuan dengan kapal Sumud Flotilla. Berlayar dari armada negara masing-masing, lebih dari 70 kapal akan menembus Gaza dan memberikan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan.
Besar harapan bahwa setiap bantuan ini akan menjadi penyambung hidup jutaan warga yang bergelut dengan krisis kemanusiaan di sana. Tak bisa dibayangkan bagaimana sulitnya warga Palestina menghadapi krisis pangan dan dibiarkan kelaparan begitu saja. Maka, bantuan kemanusiaan yang diupayakan melalui jalur laut ini ditujukan untuk menembus blokade yang selama ini menjadi penghambat utama.
Terus Bersuara dan Berjuang untuk Mengembalikan Hak Palestina!
Tak ada yang lebih menyedihkan dari perasaan terancam dan terjajah di tanah milik sendiri. Itu adalah penderitaan yang selama ini dirasakan Palestina. Bahkan sejak genosida memuncak pada Oktober 2023 lalu, dunia seakan sengaja mengulur penghentian serangan dan membiarkan Palestina dilumpuhkan secara perlahan.
Tanpa bantuan nyata, apa yang akan tersisa di Palestina? Kini, 90% bayi yang lahir di Palestina berada pada kondisi malnutrisi akut sebab para wanita yang mengandung tak mampu memenuhi asupan gizinya sendiri. Sehari-hari, warga hanya mengandalkan stok pangan seadanya tanpa memikirkan kesehatan. Lebih dari apapun, mereka hanya mengulur waktu kematian dengan mengandalkan stok pangan yang tersisa; dedaunan dan rumput rebus sebagai salah satu pilihan.
Ketimpangan dukungan antara kedua belah negara, Israel dan Palestina, sudah seharusnya menjadi perhatian dunia. Bahkan jika harus mengesampingkan telaah politik, bukankah hak kemanusiaan pantas untuk dipertimbangkan sebagai prioritas?
Layarkan Bantuan hingga ke Palestina
Kapal Sumud Flotilla akan berlayar menembus perbatasan Gaza bersama lebih dari 70 kapal lainnya. Jika sebelumnya aksi digelar di jalanan, kini upaya dengan membelah lautan akan diupayakan. Tujuan dan maksudnya masih sama; memberikan kemerdekaan yang terus tertunda untuk Palestina.Jika ingin menyalurkan semangat solidaritas pada aksi global ini, silakan akses info selengkapnya melalui tautan berikut: https://cahayapeduli.id/campaign/bantuankapalkemanusiaan
